Faktor Penyebab Problematika Kebahasaan di Kalangan Remaja

    Di era modern ini seperti sekarang ini, pengaruh globalisasi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat terutama di kalangan remaja. Mereka berlomba untuk menampilkan kepada teman-temannya bahkan dunia bahwa dirinya merasa gaul dan tidak ketinggalan zaman. Tingkah laku yang ugal-ugalan, gaya berpakaian yang aneh, hingga penggunaan bahasa yang nyeleneh yang tidak sesuai dengan kaidah Kamus Besar Bahasa Indonesia. Begitu juga dengan kebahasaan mereka baik secara huruf, tanda baca, dan kata sudah banyak yang menyalahi aturan KBBI. Pada usia remaja tentu sangat masih labil dalam hal apapun terutama dalam hal kebahasaan, tentu sangat dibutuhkan bimbingan orang tua atau guru untuk melakukan banyak hal.

    Banyak dari kita mencari tahu faktor apa yang memengaruhi remaja sehingga sering kali menyalahi aturan. Karena dari segi umur memang remaja selalu ingin terlihat berbeda dari banyaknya remaja lain. Entah itu karena mereka ingin terlihat keren atau pengaruh sosial media sehingga kebahasaan mereka terlihat “nyeleneh”.

    Bahasa adalah hal yang sangat penting untuk komunikasi antar manusia yang meliputi huruf, tanda baca, dan kata sehingga kita bisa bisa berbahasa dengan baik sesuai aturan KBBI. Namun pada saat ini orang-orang sering melupakan aturan tersebut terutama remaja. Penggunaan bahasa tidak baku (bahasa gaul) sering kali kita temui di lingkungan kita mulai dari remaja atau pelajar di tingkat Sekolah apapun baik SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi. Penggunaan bahasa ini sangat menyimpang dari bahasa yang sebenarnya. Contoh penggunaan bahasa yang tidak baku dalam pembicaraan kita, misalnya penggunaan kata: elo, gue, ngapain, enggak, lebay, dan lain-lain. Perkataan ini yang diucapkan sehari-hari saat kita berbicara dengan teman-teman. Karena remaja ingin terlihat pintar dan gaul timbullah bahasa asing diantara kalimat-kalimatnya. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya penggunaan bahasa asing juga sudah sering kita dengar, contohnya: thanks, you, good, nice, dan lain-lain. Hal ini juga sangat memengaruhi gaya bahasa di kalangan remaja kita untuk berbahasa yang baik sesuai dengan budaya Bangsa Indonesia.

    Ketidak inginannya remaja terlihat kampungan di depan teman-temannya menjadi salah satu faktor problematika kebahasaan ini. Karena dunia sudah lebih modern akan terasa ketinggalan zaman ketika remaja berbicara formal, pikirnya. Dan faktor yang kedua adalah pengawasan orang tua dan guru. Jika para orang tua dan guru selalu berbicara sesuai aturan KBBI sejak mereka beranjak remaja, mungkin akan meminimalisir problematika kebahasaan ini. Dan faktor yang terakhir adalah lingkungan. Jika sejak dini para remaja sudah dibiasakan dengan lingkugan yang terbiasa dengan bahasa sesuai kaidah KBBI, maka gaya berbicara mereka pun akan tertatat semestinya.

    Ingin terlihat gaul, kebiasaan sejak dini, hingga lingkungan adalah faktor yang fundamental mengenai problematika kebahasaan ini. Maka dari itu kita selaku wargaIndonesia wajib menjunjung tinggi harkat dan martabat Bangsa Indonesia melalui berbahasa Indonesaia yang baik dan benar. Hal ini menjadi tugas kita sebagai remaja sekaligus pelajar yang masih peduli dengan bahasa Indonesia. Kita tidak dapat memungkiri bahwa “bahasa gaul” telah mengikis dan merusak bahasa Indonesia.

    Oleh karena itu, sebagai generasi muda marilah kita menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia. Bagaimana caraya? Caranya adalah dengan membiasakan diri menggunakan Bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah berbahasa yang baik mulai dari diri kita sendiri, karena hal besar berawal dari hal kecil. Setelah itu marilah kita mengajak teman-teman dan orang-orang sekitar untuk menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan demikian, niscaya Bahasa Indonesia akan terjaga keberadaannya sampai kapanpun.

Comments

Post a Comment